Pidato Menyambut Hari Ibu

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Babak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara yang saya hormati.
Pada saat ini kita berada dalam suasana memperingati Hari Ibu, yang jatuh setiap tanggal 22 Desember. Kita jadikan tanggal itu sebagai Hari Ibu karena pada tanggal 22 Desember 1928 itulah terjadi peristiwa sejarah, yaitu bangkitnya kaum wanita dengan mengadakan Kongres Wanita yang pertama kali di Indonesia. Sungguh hal itu merupakan kesadaran kebangsaan wanita Indonesia. Sehingga patutlah jika pada tanggal 22 Desember dijadikan Hari Ibu, yang diperingati setiap tahun oleh bangsa Indonesia, khususnya oleh kaum wanitanya.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Sehubungan dengan itu, dalam pidato kali ini kami bukan hendak mengungkapkan kembali secara panjang lebar sejarah Hari Ibu, melainkan hikmahnyalah yang akan kami terangkan sehubungan dengan kedudukan ibu di dalam rumah tangga.

Sebagaimana kita ketahui, betapa pentingnya kedudukan seorang ibu di dalam rumah tangga. Beliau inilah yang teramat berat menanggung beban, terutama di dalam hubungan dengan pemeliharaan anak. Sejak semula ibulah yang telah mengandung anak dengan berat dasn susah payah selama sembilan bulan. Waktu melahirkan nyawanya dipertaruhkan. Setelah anak lahir dia pulalah yang harus menyusui, paling tidak selama dua tahun. Sedemikian berat tanggungan dan beban seorang ibu, maka sudah seharusnya kalau kita selalu menghormatinya, terutama hal ini supaya ditekankan kepada anak-anak kita.
Coba renungkan firman Allah di dalam surat Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya: 
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”
Juga di ayat lain, Allah telah berfirman di dalam surat Al Ahqaf ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: 
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".”

Saudara-saudara  yang kami cintai.
Dua ayat di atas begitu jelas menerangkan betapa beratnya tuasg seorang ibu. Selian ia pasti mengandung, menyusui dan mengasuh anak, masih banyak tugas-tugas lain yang perlu diselesaikan, seperti tugasnya sebagai anggota masyarakat. Maka benarlah jika di dalam hadits ditegaskan bahwa, surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.
Sekali waktu Aisyah ra bertanya kepada Rasulullah SAW:

أَيُّ النَّاس أَعْظَمُ حَقًا عَلَى المَرْأَةِ ؟ قَالَ: زَوْجُهَا، قُلْتُ: فَأَيُّ النَّاس أَعْظَمُ حَقـًا عَلى الرَّجُلِ ؟قَالَ: أُمَّهُ

Artinya: 
“Siapakah orang yang lebih besar haknya bagi seorang istri? Rasulullah SAW bersabda : Suaminya. Lalu saya (Aisyah ra.) bertanya  lagi: Siapakah orang yang paling besar haknya bagi seorang laki? Beliau bersabda: Ibunya.”
(HR. Bazzar dan Hakim)
Di dalam kitab Riyadhus Salihin disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

يَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ اَلَامَنْ كَانَ لَهُ وَالِدَةٌ وَلَمْ يَبِرَّهَا خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى غَيْرِ الشَّهَادَةِ

Artinya: 
“Wahai golongan orang-orang Islam, ingatlah bahwa barangsiapa yang masih mempumyai ibu akan tetapi dia tidak mau berbakti kepadanya, maka dia pasti keluar dari dunia (mati) tanpa membawa iman”

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Konon diceritakan pada zaman Rasulullah SAW ada salah seorang sahabat beliau bernama Alqamah. Dia ini seorang sahabat yang paling rajin dan giat beribadah. Sehari pun dia tidak pernah meninggalkan salat berjamaah bersama-sama Rasulullah SAW. dia tergolong salah satu sahabat yang rajin menjalankan salat malam, kebaikan lainnya. Akan tetapi satu hal yang dilupakannya kurang begitu baik dengan ibunya sendiri karena terpengaruh oleh hasutan isterinya.
Begitulah akhirnya pada suatu hari sahabat Alqamah jatuh sakit hingga menjelang ajal. Tak disangka, ternyata Alqamah saat-saat ajal sudah akan merenggutnya sama sekali tidak bisa mengucapkan kalimah thayyibah yang ditalqinkan oleh sahabat Rasulullah SAW. (Bilal, Shuhaib, dan Ammar). Demikianlah hingga ketika Rasulullah SAW mengetahui hal ihwal sahabat Alqamah ini beliau lalu memintakan maaf kepada ibunya. Baru setelah ibunya memberi maaf kepada Alqamah, lisannya lancar mengucapkan kalimah thayyibah, dan akhirnya dia mati dalam keadaan tenang.
Melihat kejadian seperti itu lalu Rasulullah SAW bersabda:

يَا مَعْشِرَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَاْلأَنْصَارِ، مَن فَضَّلَ زَوْجَتَهُ عَلىَ أُمُّهِ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَاْلمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ صِرْفاً وَلَا عَدْلاً إِلَّا أَنْ يَتُوْبَ إِلَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ وَيُحْسِنَ إِلَيْهَا وَيَطْلَبَ رِضَاهَا فَرِضَا اللهِ فِي رِضَاهَا وَسُخْطُ اللهِ فِي سُخْطِهَا

Artinnya: 
“Hai golongan Muhajirin dan Anshar, barangsiapa mengutamakan istrinya daripada ibunya, niscaya bakal menimpa kepadanya laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Dan Allah tidak akan menerima ibadah sunahnya dan ibadah fardhunya, kecuali jika dia  bertobat kepada Allah Yang Maha Luhur dan Agung, berbuat baik kepadanya dan mohon kerelaannya. Sebab, ridha Allah ada di dalam keridhaannya dan kemurkaan Allah ada di dalam kemurkaannya.”
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Marilah dalam kesempatan ini, di saat kita berada  di dalam suasana memperingati Hari Ibu, kita tekankan kepada anak-anak  kita untuk menghormati kedua orang tua terutama kepada ibu. Kita hormati para ibu itu agar lebih berperan di dalam membina kehidupan di dalam rumah tangga dan membangun negara, sebagaimana tercermin dalam kebangkitannya dalam melawan penjajah. Kita tanamkan pengertian kepada anak-anak, kaum muda dan umumnya kepada kita sekalian, bahwa ibu, meski dalam keadaan yang bagaimanapun, tetaplah ibu kita yang harus dihormati. Sebab, banyak sudah terjadi orang-orang yang memperoleh kedudukan dan memperoleh kehidupan yang berkecukupan, lalu memperlakukan ibunya sebagai pembantu. Disuruhnya ini dan itu, sehingga istrinya lebih banyak menganggur. Na’udzubillah min dzalik. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan semacam itu, Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Demikan Contoh kalimat dalam Pidato menyamut Hari Ibu semoga bermanfaat, baca juga untuk contoh teks pidato yang lainnya semoga bermanfaat. terima kasih..

0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih telah berkunjung diblog Kata Estetika ini, silahkan tinggalkan komentar anda,