Beranda Teks Pidato Tata Bahasa Sastra Ceramah Khutbah Arti Kata Puisi ☰

HAMKA | Tokoh Sastra | (1908-1981)

Sastrawan, Politikus & Ulama BesarHamka adalah sebuah nama yang mempunyai banyak pengertian, sastrawan, politikus, penyair, penulis, pengarang, dan masih banyak nama lain sebagai sinonim bagi dirinya.Dia lahir di Sungai Batang, pinggiran Danau Maninjau pada tanggal 16 Februari 1908. Hamka kecil sering dipanggil si Malik. Semasa kecilnya bandel, pelajarannya di pesantren tidak pernah tamat, sekolah formalnya pun hanya sampai kelas dua SD. 

Akibat kenakalannya ini sang ayah yang seorang tokoh agama dan pendidik di Sumatera Barat sering memarahinyaiTidak tahan dengan kenakalan anaknya, ayahnya Dr. A. Karim Amrullah memindahkannya ke Parabek, Bukit Tinggi, tepatnya ke Sumatra Thawalib sebuah lembaga pendidikan yang dipimpin oleh temannya sendiri Syekh Ibrahim Musa Parabek. Tetapi di sekolahnya yang baru ini, Hamka tetap saja Hamka yang dulu. Iangankan belajar, berjumpa dengan buku pun jarang. Semenjak di Parabek mulailah terungkap sisi-sisi  kehidupan Hamka yang sebelumnya tidak terkenal.
Buya Hamka Sastrawan, Politikus, Ulama Besar

Semenjak tinggal di Parabek inilah Hamka mulai dikenal sebagai wasit pertandingan sepak bola, penyabung ayam, joki (penunggang kuda balap) dan tukang berkelahi. Pergaulannyalebih banyak dengan preman ketimbang kalangan terpelajar. Saking kuatnya naluri kependekarannya, sampai-sampai dia berani menantang berkelahi memakai pisau walaupun dia belum menguasainya. Seperti yang diceritakan sahabatnya sejak kecil Mohammad Zein Hassan, dalam Panji Masyarakat No, 39/1969. ”...belum lagi pandai melangkah empat, si Malik sudah berani menantang kelahi dengan pisau. Saya menyaksikan sendiri Si Malik tergelempang (terjatuh) berlumuran darah. Itu perkelahiannya yang kedua. Bekas luka terkena pisau tetap membekas dilengan kirinya”.

Menginjak usia 16 tahun Hamka mulai sadar dan mulai berpikir. Untuk menutupi kesuraman-kesuraman kehidupannya di masa lalu, Hamka pun mencoba merantau ke tanah jawa, tepatnya ke Yogyakarta untuk menimba ilmu kepada HOS Cokroamianoto.  Dari Yogyakarta dia menuju Pekalongan, di sini dia menimba ilmu dari AR Sutan Mansur, yang juga masih kerabatnya. Kendatipun dia dulu dikenal kenakalannya, semenjak memasuki gerbang usia dewasa ini dia mulai mencoba menggumuli ilmu.Sadar akan kekurangannya dia mulai membuka buku. Jiwa mudanya yang mulai haus pada ilmu mengantarkannya untuk berkelana ke tanah Jawa, Medan dan akhirnya belum genap usianya 20 tahun, pada tahun 1927 dia pergi ke Makkah. 

Pengalaman-pengalaman buruk di masa kecilnya tidak membuatnya putus asa tetapi bahkan dia menjadikan semua itu sebagai motivasi diri untuk membuktikan bahwa dia bukanlah si Malik  yang dulu dikenal sebagai ”preman”. Dia jadikan semua itu sebagai pengalaman berharga untuk mencari jati diri yang sebenarnya. Sungguh dia telah menjadikan pengalamannya sebagai alam terkembang jadi guru”. Justru dari seorang Hamka yang mencoba memasuki berbagai segi kehidupanlah, yang nantinya menjadikannya terkenal dan darinya mengalir berbagai pandangan, tulisan dan karyanya. Dunia politik mulai digelutinya ketika pada usia 17 tahun dia menjadi aktivis Muhammadiyah. Pada tahun 1946, Hamka terpilih dalam konferensi Muhammadiyah Sumbar sebagai ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat.  

Setahun kemudian, pada tahun 1947 dia turut ambil bagian menyusun Anggaran Dasar Muhammadiyah yang baru pada Kongres Muhammadiyah yang ke 31 di Yogyakarta.Pada kongres ke 32 di Purwokerto, Hamka terpilih menjadi Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jabatan sebagai Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini selalu dipercayakan padanya pada setiap kongres sampai tahun 1971. 

Setelah tahun 1971, karena kesehatannya mulai menurun, Hamka tidak lagi menjadi Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah tetapi dia dipercaya menjadi Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.Tahun 1950, Hamka memboyong keluarganya Jakarta, dia mulai bekerja sebagai Pegawai Negeri di Departemen Agama mentrinya waktu itu KH Wahid Hasyim (Ayah dari Abdurrahman Wahid - Gus Dur). Sebagai pegawai negeri, Hamka mempunyai tugas mengajar pada beberapa perguruan tinggi Islam.Pada tahun 1955, Hamka dicalonkan dari Masyumi untuk menduduki kursi DPR dengan daerah pemilihan Jawa Tengah. Tapi dia hanya mau sebagai “votegetter” (pengumpul suara). Tapi akhirnya atas desakan iparnya AR Sutan Mansur, Hamka diminta agar menjadi anggota DPR. Hamka pun terpaksa menerimanya dan jadilah ia sebagai anggota konstituante.

Pada 1958, Hamka diundang ke Mesir. Di hadapan pemuka-pemuka Islam, Hamka menyampaikan pidato ”Pengaruh Muhammad ’Abduh (cikal bakal gerakan Muhammadiyah) di Indonesia”. Pidato ini mengantarnya untuk mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Sejak suhu politik Indonesia memanas dengan keluarnya Dekrit Presiden Soekarno pada Juli 1959, dan Masyumi menjadi partai terlarang. Hamka memusatkan dirinya berdakwah dan memimpin mesjid agung AI-Azhar di depan rumahnya. Dan Hamka pun diberhentikan sebagai pegawai negeri.

Sebagai seorang penulis, Hamka terbilang sangat produktif.  Sekitar 300 judul buku telah ditulisnya. Buku-buku itu tidak hanya terbatas pada roman sastra, tetapi juga mengupas tentang agama dan budaya. Menurut Fuad Moh. Fachruddin dalam salah satu tulisannya "Hamka & Pandangan Mata Sastra” yang dimuat Berita Buana, Selasa I 5 September‘1982 hal. 4, menyatakan bahwa Hamka bukanlah novelis, tapi agamais. Ia membawa sastra di dalam cerita dan bukan cerita yang menampilkan sastra. Cerita yang memainkan kata tidak  digunakan oleh Hamka dalam hidup beragama.

Berbagai macam pandangannya tentang risalah keagamaan dia uraikan lewat karya-karyanya. Seperti Tasawuf  Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Pedoman Mubaligh Islam, semangat Islam, Sajarah Islam sumatera dari Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad. Karya-karya Hamka tentang kritikan terhadap sesuatu yang tidak sejalan dengan pandangan hidup yang dianutnya dan kritiknya terhadap adat istiadat Minangkabau yang bertentangan dengan Islam, antara lain :

Merantau ke Deli, Di jemput Mamak, Adat Minangkabau Menghadapi Revolasi, Dari Lembah Cita-Cita, Sesudah Naskah Revile, Negara Islam, Revolasi Agama, Revolusi Pikiran, Muliammadiyah Melalui Tiga Zaman,  Merdeka dan Islam dan Demokrasi. Sedangkan karyanya yang lain yang ditulis berdasarkan pengalaman-pengalamannya yang bersentuhan langsung dan dijadikan modal kepeduliannya tampak dalam Ayahku, Kenang-Kenangan Hidup, Riwayat Perjalanan ke Negara-Negara Islam dan Empat Bulan di Amerika. Memang Hamka menuliskan pandangannya bukan sebatas dunia sastra saja, melainkan juga dalam bidang politik, agama, budaya dan sejumlah masalah kemasyarakatan lainnya.

Di antara semua hasil karya yang telah ditulisnya, karyanya yang paling besar adalah Tafsir Al-Qur'an Al-Azhar sebagai karya puncak keberhasilannya yang diselesaikannya ketika dia berada di tahanan rezim Soekarno karena fitnahan kaum komunis. Baginya menulis merupakan wilayah profesinya. Maka tidak salah ketika dia menulis syair untuk seorang sahabatnya di Medan yang mengajaknya untuk terjun ke dunia politik 

”Lapangan siasat bukan medanku, Aku dikenal seorang pujangga, Yang bersayap terbanglah laju, Aku ’kan tetap pahlawan pena”.

Sebagai seorang ulama besar, Hamka pernah meletakkan jabatannya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia di masa Orde Baru, karena fatwanya melarang orang muslim mengikuti peribadatan agama lain, seperti mengikuti acara Natal yang sekaligus bersamaan dengan acara peribadatan.

Tanggal 24 Juli 1981, hari itu cuaca begitu tenang dan bersahabat. Tetapi keadaan ini sangat berbeda dengan perasaan hati semua rakyat Indonesia yang sedang dirundung duka, pasalnya pada hari itu seorang putera bangsa telah pergi untuk selamanya, menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) telah karya-karya besarnya bagi kita. Dialah sastrawan, politikus dan ulama besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Kebesarannya Sebagai sastrawan dan ulama tampak dari banyaknya para pelayat yang melepas kepergian terakhir pemimpin yang dicintainya. Ribuan umat manusia berjejalan disepanjang  jalan menuju pemakaman umum Tanah Kusir, Jakarta, sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir sekedar untuk mengucapkan selamat jalan kepada Buya tercinta.

"Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raaji'un"

Selamat jalan wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai, masuklah ke dalam golonganku, dan masuklah kedalam syurgaku. Wallahu Alam !!!
Anda baru saja membaca Selayang Pandang Tentang HAMKA |  Tokoh Sastra | (1908-1981), Jangan Lupa baca juga yang lainnya, Inilah Pemuda Kesayangan Nabi SAW | Usamah Bin Zaid, Tiga Istri Serumah | Madu-Madu Manis

(Disarikan dari berbagai sumber). 
Penulis : Saefal Ahmad Riyadi, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Arab IAIN SGD Bandung th. 2003

Inilah Pemuda Kesayangan Nabi SAW | Usamah Bin Zaid

Pada tahun kesebelas hijriah, Rasulullah SAW menurunkan perintah supaya menyiapkan bala tentara untuk memerangi tentara Romawi. Dalam pasukan tersebut terdapat para “senior” seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abu "Ubaidah dan Sa‘ad bin Abi Waqqash dan Iain-lain. Rasullullah SAW mengangkat “usamah bin Zaid yang usianya beium mencapai dua puluh tahun untuk menjadi Panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Rasulullah SAW memasang panji untuk “Usamah dengan tangan beliau sendiri dan memberinya instruksi-instruksi sebagai berikut:“Berangkatlah dengan nama Allah dan di jalan-Nya. Berjuanglah melawan musuh Allah. Seranglah orang Unba di pagi dini dan tempuhlah jarak ini dengan cepat agar Anda dan tentara Anda tiba di tempat itu sebeium kabar kedatangan Anda sampai kepada mereka". 

Terpilihnya “Usamah sebagai komandan pasukan ternyata tidak memuaskan sebagai kaum muhajirin dan anshor. Mereka saling berkata, “Mengapa Nabi Muhammad SAW memilih pemuda itu, bukanlah kita memiliki tokoh-tokoh tua yang berpengetahuan dan berpengalaman dalam masalah perang?“Lalu perbincangan tersebut sampai terdengar oleh Nabi. Saat itu Junjungan Yang Mulia SAWsedang sakit keras.

Nabi sadar, dalam masa sakitnya, bahwa gerakan pasukan dari perkememahan sedang dihalangi, dan beberapa orang sedang menyeringai terhadap kepemimpinan “Usamah. ini sangat meresahkan Nabi Muhammad SAW. Dengan handuk di bahu serta sekerat kain pengikat kepala, beliau ke Masjid untuk berbicara kepada kaum Muslimin dari dekat dan memperingatkan mereka mengenai pelanggaran terhadap perintahnya.

Dalam keadaan panas yang tinggi, Nabi Muhammad SAW naik ke mimbar. Setelah memuji Allah Yang Maha Kuasa, Beliau mengatakan, “Wahai manusia! Saya sangat sedih karena penundaan keberangkatan tentara itu. Nampaknya kepemimpinan “Usamah tidak disukaioleh sebagian dari Anda, dan Anda pun mengajukan keberatan. Namun, keberatan dan pembangkangan Anda ini bukanlah yang pertama kali. Sebelum ini, Anda juga mengeritik kepemimpinan Zaid, ayah “Usamah. Saya bersumpah demi Allah bahwa ia pantas untuk jabatan ini, begitu pula putranya. Saya menyayanginya. Wahai manusia! Berlaku baikiahkepadanya. la salah seorang yang baik di antara Anda sekaiian."

Dengan itu, Nabi Muhammad SAW mengakhiri khotbahnya. Beliau turun dari mimbar, lalu pergi berbaring di ranjang dengan panas yang tinggi dan badan yang lemah. Beliau menganjurkan beruiang-ulang kepada para Sahabat senior yang datang menanyakan kesehatannya, “Gerakanlah tentara ‘Usamah! Dan kadang-kadang beliau berkata, “Berbabunglah dengan tentara 'Usamah!" atau, “Berangkatkanlah tentara ‘Usamah?’ 

Nabi Muhammad SAW mempertimbangkan dua hal ketika memilih seorang muda untuk menjadi kepala tentara dan menempatkan orang-orang yang lebih tua dari kalangan Muhajirin dan Anshor di bawah komandonya Pertama, beliau hendak menggembirakan ‘Usamah karena musibah yang menimpanya dengan gugurnya ayahnya di medan Perang Mu'tah, sekaligus mengangkat kepribadian dan kemampuannya. Kedua, beliau hendak menghidupkan pembagian kerja dan jabatan atas dasar kepribadian dan kemampuan, dan hendak menjelaskan bahwa jabatan kedudukan umum hanya menuntut kemampuan dan kecakapan, dan tidak ada kaitannya dengan usia. sehingga orang-orang muda dapat mempersiapkan diri untuk tugas-tugas yang penting.

Dapat dimengerti jika Nabi Muhammad SAW mempercayai ‘Usamah karena pada saat perangHunain ketika tentara muslim terdesak bahkan ada sebagian sahabat yang lari yang menjadipenyebab utama segala kekacauan dan kegemparan pada perang tersebut. Dan Rasulullah SAW merasa bahwa apabila keadaan itu dibiarkan, walaupun hanya sebentar, jalannya sejarah mungkin menjadi lain; pasukan syirik akan melumat tentara tauhid. Karenanya sambil menunggang keledainya, beliau sahabat berseru dengan suara nyaring, “Hai pembela Allah dan Nabi-Nya! Aku hamba Allah dan Nabi-Nya." Beliau mengucapkan kalimat itu lalu memalingkan keledainya ke medan pertempuran yang telah diduduki tentara Malik. Sekelompok orang yang siap berkorban, seperti ‘Abbas paman Rasululiah SAW, ‘Ali bin Abi Thalib, Fadhal bin ‘Abbas, Abu Sufyan bin Harits termasuk juga ‘Usamah bin Zaid, tak sudi membiarkan Nabi Muhammad SAW sendirian tanpa perlindungan, mereka pun maju bersama Nabi Muhammad SAW.

Pertempuran Hunain itu meninggalkan kesan yang menarik bagi diri Rasulullah SAW. Orang-orang yang berdiri di sekitarnya pada saat-saat sulit merupakan orang-orang yang teguh iman dan keberaniannya. Diantara orang-orang itu adalah ‘Usamah bin Zaid. Dengan jumlah kecil yang terdiri dari orang-orang yang berani tersebut. Rasulullah berhasil membalikkan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan.Bayi ‘Usamah lahir di Mekah pada Tahun ketujuh sebelum hijrah ketika itu Rasulullah SAWsedang mengalami kesusahan dikarenakan tindakan kaum Quraisy yang menyakiti beliau, keluarganya juga sahabatnya.

Kesulitan dalam berda’wah menyebabkan beliau senantiasa harus bersabar Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seseorang mengabarkan, “Ummu Aimanmeiahirkan seorang bayi laki-laki." Wajah Rasuluilah SAW berseri-seri menarima kabar tersebut, bayi laki-iaki itu yang kita kenal sebagai ‘Usamah bin Zaid bin Haritsah. Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah SAW bersuka cita dengan kelahiran bayi tersebut. Karena mereka tahu kedudukan orangtuanya di sisi Rasulullah SAW. lbu bayi tersebut seorang wanita Habsyi yang diberkati dengan panggilan “ummu Aiman". UmmuAimanm adalah bekas sahaya ibunda Rasulullah SAW, Sayyidah Aminah. Dialahiyang mengasuhRasulullah SAW sewaktu kecil pada saat ibundanya Sayyidah Aminah hidup. Juga setelah lbundanya Wafat.Rasulullah SAW menyayangi Ummu Aiman sebagaimana iayaknya seorang anak kepadaibunya. 

Sedangkan Bapaknya adalah Zaid bin Haritsah, laki-Iaki yang dikasihi Rasul. Zaid pemah diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW sebelum ia Islam. Kehidupan Zaid diiringi dengan didikan Rasul mulia, juga menyaksikan secara langsung keteladanan akhlak Rasulullah SAW. Zaid menjadi sahabat Rasul yang kepadanya dipercayakan semua rahasia, Zaid termasuk orang yang dikasihi Rasul dalam Islam.Kaum muslimin pun ikut bergembira dengan kelahiran ‘Usamah melebihi kegembiraankelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu sangatlah wajar, karena apapun yang disukai RasulullahSAW maka kaum muslimin pun ikut menyukainya. ‘Usamah dipanggil oleh kaum muslimin dengan sebutan Al-Hibb wa Ibnil Hib, Kekasih Putera Kekasih. Kaum muslimin tidaklah berlebihan dengan memanggil ‘Usamah dengan panggilan tersebut‘ karena memang Rasuiuiiah SAW sangat menyayangi ‘Usamah.

Umur ‘Usamah sebaya dengan cucunda Rasul Hasan dan Husein putra Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sayyidina Hasan dan Husein berkuiit putih, tampan mirip dengan kakeknya Rasulullah SAW. Sedangkan ‘Usamah berkulit hitam sebagaimana Ibunya. Tetapi perbedaan itu sedikit pun tidak mengurangi kecintaan Rasululiah SAW terhadap ‘Usamah. Rasul sering memangku ‘Usamah bersanding dengan cucunya di pahanya.

Pernah suatu kali ‘Usamah tersandung pintu, sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah SAW menyuruh Aisyah untuk membersihkannya, tetapi Aisyah tidak mampu melakukannya. Karena begitu cintanya, Rasulullah SAW isap darah yang keluar dari luka ‘Usamah, kemudian beliau ludahkan. Setelah itu Rasulullah SAW membujuk ‘Usamah dengan Kata-kata yang menyenangkan hatinya, sehingga ‘Usamah merasa tentram, Saat ‘Usamah menginjak remaja, kemuiiaan pekerti dan keindahan sifatnya semakin terlihat. Sehingga pantaslah jika ‘Usamah disayangi Rasul ‘Usamah cerdik dan pintar, sangat pemberani, bijaksana pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tahu menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela, wara', mencintai Rasuiuliah SAW dan keluarganya, dan taqwa kepada Allah SWT.

Sewaktu perang Uhud, ‘Usamah datang beserta anak-anak sebayanya. Mereka ingin ikut berperang. Sebagian dari mereka diperkenankan Rasul untuk ikut dan sebagian Iagi tidak diperkenankan ikut. ‘Usamah termasuk anak yang tidak diperkenankan Rasulullah SAW untuk ikut perang. ‘Usamah sangat sedih, ia pulang sambil menangis karena tidak diperkenankan untuk ikut berperang bersama Junjungannya Rasulullah SAW di Uhud.

Pada perang Khandaq, ‘Usamah kembali beserta rombongannya anak-anak remaja menghadap Rasul untuk ikut berperang, ‘Usamah berdiri tegap di hadapan Rasuluiiah SAW supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankan ikut berperang. Karena begitu menggebunya keinginan ‘Usamah untuk ikut berperang di jalan Allah, Rasulullah SAW yang bijaksana akhirnya memperkenankannya untuk ikut berperang. ‘Usamah pun menyandang pedang untuk berjihad, padahal saat itu ‘Usamah baru berumur lima belas tahun.

Ketika terjadi perang Hunain, tentara muslimin terdesak sehingga menjadi kacau balau. Tetapi ‘Usamah tetap bertahan bersama-sama dengan Ali bin Abi Thalib, ‘Abbas paman Nabi, Sufyan bin Harits, Fadhal bi’Abbas.

Dalam perang Mu’tah, ‘Usamah ikut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ketika itu ia berumur sekitar delapan belas tahunan. Ayahnya gugur sebagai syuhada, yang disaksikan sendiri oieh ‘Usamah. Kemudian komando beralih ke tangan Ja‘farAbi Thalib, ‘Usamah tetap berjuang dengan penuh semangat. Hingga Ja’far pun meninggal sebagai syuhada. Lalu komando diarnbil alih oleh ‘Abduilah bin Rawahah. Yang juga kemudian gugur di medan pertempuran tersebut, menyusul kedua sahabatnya Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib. ‘Usamah tetap bertempur dibawah komando Khalid bin Walid. Hingga akhirnya kaum muslimin mampu melepaskan diri dari tentara Romawi walaupun dengan jumiah yang minim.

Kisah Panglima Termuda Usamah bin Zaid

Pada tahun kesebelas Hijriah Rasulullah SAW hendak mengirimkan pasukan ke Romawi di bawah komando ‘Usamah, sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini. Hingga Rasulullah SAW wafat keberangkatan pasukan tersebut ditangguhkan dengan berbagai alasan. Akhirnya setelah diangkatnya Abu Bakar sebagai khaiifah, baru pasukan yang dipimpin ‘Usamah diberangkatkan. ‘Usamah maju memimpin pertempuran dengan tetap melaksanakan semua amanat Rasulullah SAW kepadanya, sebelum Rasul kembali kehadirat Ilahi. Atas pertolongan Allah pasukan kaum muslimin memperoleh kemenangan besar. ‘Usamah kembali dengan rampasan perang yang banyak dan pasukan yang utuh.

‘Usamah bin Zaid sangat dihormati, karena keindahan akhlaknya yang mengikuti Rasulullah SAW, Beliau selalu memuliakan Rasulullah SAW dan keluarganya. Sebagai orang yang dicintai Rasul dan dipercaya Rasul, ‘Usamah memiliki tempat tersendiri di hati kaum muslimin. Satu ketika, Umar bin Khattab pernah diprotes oleh anaknya karena pemberian kepada ‘Usamah lebih besar daripada dirinya dengan alasan bahwa jasa Bapak ‘Usamah yaitu Zaid bin Haritsah tidakjauh berbeda dengan Khalifah Umar. Umar pun menjawab protes anaknya:
“Bapaknya lebih disayang oleh Rasulullah SAW daripada Ayahmu, dan Dia lebih disayangi Rasulullah SAW daripada Kamu"!
Hingga menjelang wafatnya tahun 54 H, ‘Usamah tetap dikenai sebagai orang yang shaleh dan berakhlak muiia. Semoga Allah merahmati sahabat yang dicintai oleh Rasulnya.

Demikian artikel mengenai cerpen Cerita Islami tentang sejarah Usamah Bin Zaid yang berjudul Inilah Pemuda Kesayangan Nabi SAW  | Usamah Bin Zaid, jangan Lupa baca juga cerpen lainnya di blog kata estetika ini, semoga bermanfaat.