Pidato Menyambut Keagungan Bulan Rajab

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saudara-saudara yang mulia.
Kini kita sudah memasuki suatu bulan yang disebut bulan Rajab. Ada suatu peristiwa  yaitu yang dikenal dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tetapi bukan ini yang akan diterangkan sekarang, karena waktuya juga masih jauh dan Isra’ serta Mi’rajnya Nabi SAW itu jauh pada tanggal 27 Rajab. Maka yang lebih penting untuk kita ketahui pada hari ini ialah perkara-perkara yang ada hubungannya dengan keagungan bulan Rajab. 

1. Rajab itu termasuk salah satu bulan suci atau asyhurun hurum. Rasulullah SAW bersabda ketika hari Nahar (hari raya kurban dalam haji wada (yakni haji terakhir yang beliau SAW kerjakan dan sebagai haji bermohon diri). Di antara isi khutbahnya ialah :

أَلاَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَاْلأَرْضِ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَ مُتَوَالِيَةٌ ذُوالْقَعْدَةِ وَذُوالْـحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

 
Artinya : 
“Ingatlah bahwasanya zaman ini telah berputar sejak diciptakannya langit dan bumi (maksudnya bulan-bulan itu bolak-balik kembali setiap tahun). Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya empat bulan sucinya, tiga berturut-turut yaitu bulan-bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, yang satunya berpisah yaitu Rajab Mudhar yang terletak antara bulan Jumadil Ukhra dan Sya’ban.”
2.  Baik sekali mengerjakan puasa dalam bulan Rajab itu, sebagaimana tersebut dalam cerita Anas bin Malik ra :

لَقَيْتُ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ فَقُلْتُ لَهُ : مَنْ اَيْنَ جِئْتَ يَامُعَاذُ؟ قَالَ جِئْتُ مِنْ عِنْدِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ مَا سَمِعْتُ مِنْهُ؟ قَالَ سَمِعْتُ مَنْ قَالَ لَاإِلٰهَ إِلَّا للهُ خَالِصًا مُخْلِصًا دَخَلَ الـْجَنَّةَ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا مِنْ رَجَبٍ يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللهِ دَخَلَ الـْجَنَّةَ ثُمَّ دَخَلْتُ عَلَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَارَسُوْلُ اللهِ إِنَّ مُعَاذًا أَخْبِرْنِى بِكَذَا و بِكَذَا فَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ صَدَقَ مُعَاذٌ.

 
Artinya : 
“Saya bertemu dengan Mua’dz bin Jabal ra., lalu saya bertanya kepadanya: Dari mana engkau hai Mua’dz? Jawabnya: Saya datang dari Nabi SAW. Saya bertanya lagi: Apa yang engkau dengar darinya? Ia menjawab: Saya mendengar sabdanya: Barang siapa mengucapkan lafal Lailahaillallah dengan hati bersih, suci dan ikhlas, maka ia masuk surga, dan barang siapa berpuasa sehari di bulan Rajab untuk mencari keridhaan Allah, maka ia masuk surga. Saya (Anas) lalu memasuki rumah Rasulullah SAW, dan berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya Muadz memberitahukan  kepada saya demikian. Kemudian beliau SAW bersabda: Benar perkataan Muadz itu.”
Artinya : 
“Sesungguhnya dalam surga itu ada sebuah sungai yang disebut sungai Rajab, airnya lebih putih daripada susu, lebih manis rasanya daripada madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari dari bulan Rajab, maka akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari sahabat Anas ra. Ketiga hadits di atas, semuanya memang dhaif, tetapi tidak mengapa kalau kita amalkan, sebab termasuk fadhailul amal atau amal-amal yang utama. 

3. Doa pada malam hari pertama bulan Rajab itu insya Allah dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : 
 Artinya : 
“Lima malam ini tidak akan ditolak sesuatu doa (jikalau diucapkan pada malam-malam itu) yaitu: malam pertama Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari Idul Fitri dan malam hari Idul Adha” Diriwayatkan oleh Imam Ibnu ‘Asakir dari Sahabat Umamah ra. Inipun hadist dhaif, tetapi boleh diamalkan, sebab termasuk dalam fadhailul amal pula.

4. Fdhilah Puasa di Bulan Rajab
 Artinya : 
“Berpuasalah dari bulan-bulan suci itu dan tinggalkanlah 3x. Ketika menyabdakan demikian itu, ketiga jari beliau SAW itu digenggamkan dan kemudian dibuka”
Maksudnya tiga hari berpuasa lalu diikuti dengan tiga hari tidak berpuasa. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu  Majah dan Baihaqi dengan isnad yang jayyid (baik). Boleh juga berpuasa sebulan penuh di bulan Rajab. Tetapi handaklah dikurangi barang sehari atau dua hari. Sebab, kalau sebulan penuh, hukumnya makruh kecuali jika dilanjutkan dengan bulan Sya’ban, atau dimulai sejak bulan Rajab yakni Bulan Jumadil Ukhra. Adapun mengerjakan salat sunnah Rajab itu tidak diperkenankan sama sekali, sebagaimana yang disebut dalam Kitab I’anatuth Thalibin:

5. Fadilah Sholat Sunnah dibulan Rajab

أَمَّا الصَّلاَةُ الْمَعْرُوْفَةُ لَيْلَةَ الرَّغَائِبِ وَنِصْفَ شَعْبَانَ وَيَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَبِدْعَةٌ قَبِيْحَةٌ وَالصَّلاَةُ الرَّغَائِبِ ثِنْتَا عَشَرَةَ رَكْعَةً بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمْعَةٍ مِنْ رَجَبٍ
Artinya : 

“Adapun shalat yang dikenal malam Malam Raghaib, juga salat Nishfu Sya’ban dan hari Asyura itu adalah suatu bi’dah yang buruk. Salat Raghaib itu dua belas rakaat dikerjakan antara Maghrib dan Isya pada malam Jum’at pertama bulan Rajab. Maka dari itu janganlah mengerjakan ini atau salat sunnah apapun yang dimaksud atau diniatkan khusus untuk menyambut kedatangan bulan Rajab atau karena adanya malam Nishfu Sya’ban atau hari ‘Asyura.”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَاتُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya : 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Baca Juga Teks Pidato Lainnya, Pidato Menyambut Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Pidato Menyambut hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Pidato Menyambut Hari Asyura’ (10 Muharram), Pidato Menyambut Tahun baru Hijriyah.

2 komentar:

  1. Semoga dengan pidato bulan rajab ini, pembaca dapat memahami intisarinya

    ReplyDelete
  2. Yayaya... bulan rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Alloh

    ReplyDelete

Terima Kasih telah berkunjung diblog Kata Estetika ini, silahkan tinggalkan komentar anda,